Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
KEHIDUPAN MANUSIA TERTINGGI DIDUNIA
Manusia tertinggi didunia adalah Sultan Kösen (Turki, b.10 Desember 1982) yang diukur 251 cm (8 ft 3 in) di Ankara, Turki
Petani bagian-tme adalah orang pertama lebih dari 8 kaki (2,43 m) diukur oleh Rekor Guinness World selama 20 tahun.
Memang, GWR hanya tahu 10 dikonfirmasi atau kasus-kasus dapat diandalkan dalam sejarah manusia mencapai 8 kaki atau lebih.
Sultan juga memegang rekor untuk terluas rentang tangan dan kaki terbesar pada orang hidup.
Berbicara pada saat ia masuk ke dalam Guinness World Records keluarga dia berkata: 'aku tidak pernah membayangkan aku akan dalam buku, aku bermimpi tentang hal itu, tapi itu masih kejutan besar'.
Sultan adalah salah satu dari 5 saudara kandung, dengan tiga bersaudara dan satu saudara perempuan. Sisa keluarganya, termasuk ibu dan ayah, semua 'normal' ukuran.
Karena ketinggian ekstrim ia tidak pernah mampu menyelesaikan sekolah tetapi bekerja kadang-kadang sebagai petani untuk mendukung keluarganya.
Ia menggambarkan salah satu keuntungan menjadi setinggi mampu membantu ibunya keluar dengan pekerjaan seperti mengubah bola lampu rusak dan menggantung tirai.
Kerugian ke ketinggian dia daftar termasuk tidak mampu menemukan pakaian atau sepatu yang cocok atau menemukan sangat sulit untuk masuk ke dalam mobil ukuran biasa.
Seperti setiap muda laki-laki di dua puluhan, Sultan suka mendengarkan musik, bermain game komputer dan menonton film.
Tentara Kasih
Pada suatu perjalanan kami ke Yunani dan Turki, kami berkesempatan mengunjungi Semenanjung Gallipoli. Mungkin, tidak banyak orang tahu tentang Gallipoli, kecuali mereka yang suka membaca buku-buku sejarah. Nama Gallipoli terkenal, karena pada waktu Perang Dunia I, semenanjung ini merupakan ajang pertempuran yang sangat dahsyat dan berdarah. Dalam pertempuran itu lebih kurang 500.000 jiwa gugur.
Ketika itu, tentara sekutu yang terdiri dari Inggris, Anzak (Tentara gabungan dari Australia dan New Zealeand) serta Perancis mengadakan penyerbuan melalui laut ke daratan Turki, yang berada di bawah kekuasaan Jerman. Penyerbuan dari laut itu mendapat perlawanan yang tangguh dari pihak Turki, karena mereka berada dalam posisi yang jauh lebih baik, yaitu di pucuk-pucuk perbukitan.
Karena tentara sekutu persiapannya kurang matang dan pemimpinnya kurang tegas, mereka harus mendarat dari laut dan menaiki daerah berbukit yang cukup terjal. Dengan menggali parit-parit perlindungan, kedua belah pihak berusaha mempertahankan diri, tetapi hal itu memakan korban cukup banyak. Adapun garis pertahanan mereka merupakan parit-parit dengan jarak yang berdekatan. Suatu parit berjarak kurang lebih 10-15 meter. Pada sebuah pertempuran yang hebat, ketika mereka saling menembak, terdengarlah suara raungan dari seorang tentara Inggris. Agaknya anggota tentara itu mengalami luka yang sangat parah. Karena ia tepat berada di antara garis pertahanan atau daerah tak bertuan (no man’s land), tidak seorang pun berani menolongnya. Pasalnya, kedua parit perlindungan itu sangat dekat sehingga setiap gerakan sedikitpun dari salah satu pihak akan diberondong senapan oleh pihak lain.
Kelihatannya, anggota tentara itu sangat kesakitan sehingga ia meraung-raung dengan keras. Dalam kesunyian yang menegangkan itu, tiba-tiba muncul seorang tentara Turki dari parit perlindungan. Dengan tenangnya ia berjalan menuju ke prajurit Inggris yang sedang meraung-raung itu. Perbuatannya itu tentu sangat mengejutkan teman-temannya, para prajurit Turki, yang berada dalam parit perlindungan. Mereka menanti saat-saat prajurit pemberani itu ditembak oleh musuh mereka. Demikian pula para prajurit Inggris tercengang melihat seorang tentara musuh begitu “gila” keluar dari perlindungan menuju mereka.
Setelah prajurit Turki sampai pada prajurit Inggris yang terluka parah, dengan sigap digendongnya tentara Inggris yang merupakan musuhnya itu. Dengan sikap tenang pula dibawanya prajurit itu ke parit perlindungan tentara Inggris supaya prajurit itu dengan mudah dapat ditolong oleh teman-temannya sendiri. Setelah meletakkan prajurit itu dekat pada teman-temannya, dengan tenang ia kembali ke parit perlindungannya sendiri. Saat itu teman-temannya pun dengan tegang menantikan kedatangannya. Mereka berdebar-debar, akankah teman mereka itu ditembak oleh prajurit Inggris. Namun, tidak sesuatu pun yang terjadi. Ternyata pihak Inggris tidak ada yang menembaknya. Tampaknya, mereka semua tertegun dan sangat terpesona melihat perbuatan prajurit Turki yang sangat luar biasa ini.
Kami tidak diceritakan apakah akhirnya prajurit itu mati atau tertolong jiwanya. Namun, kisah ini dengan cepat meluas di kalangan tentara Turki, yang tentunya merasa amat bangga dengan kejadian itu. Belakangan pimpinan tentara Turki membuat sebuah patung dari kejadian itu sebagai penghormatan bagi anggota tentaranya yang luar biasa itu. Kini, kita dapat melihat patung itu dibekas medan peperangan di Gallipoli. Ketika aku mendengar kisah ini, aku ingat sabda Tuhan Yesus, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (Lukas 6:35). Dan kasih yang supreme ini diwujudkan oleh Yesus sendiri tatkala diatas kayu salib dan di dalam penderitaan dan kesakitan-Nya yang tak terlukiskan, Ia masih sempat berdoa kepada Bapa-Nya untuk mereka yang mengkhianati-Nya, mereka yang menyiksa dan mengolok-olok-Nya, mereka yang menyakiti-Nya, mereka yang menampar dan meludahi-Nya dan mereka yang menyalib-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka telah perbuat” (Lukas 23:34).
Diangkat dari kisah nyata,Y.K Winata.
Sebungkus Nasi
Pada suatu malam, di depan rumah makan yang sederhana di kota beijing. Terlihat seorang pemuda selalu mondar mandir di depan rumah makan tersebut. Sesekali ia duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari kedai itu sambil memandang ke kedai. Pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa sudah berada di rumah makan sejak pukul 7 malam. Mata pemuda itu selalu saja memeperhatikan jikalau rumah makan itu sepi dari pengunjujng. Namun tamu dari rumah itu tidak pernah berhenti dengan pengunjung, selalu saja ada yang masuk dan keluar karena ramainya pengunjung. Pemuda itu masih sabar untuk menunggu apabila rumah makan telah sepi dari pengunjung. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya kedai itu mulai kelihatan sepi. Sang pemuda dengan sifat yang segan dan
malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. "Tolong berikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini yang hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun. Sang pemilik kedai pun lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya. Ketika pemuda ini menerima nasi putih, lalu ia berkata dengan pelan : "bolehkah saya meminta sedikit kuah sayur diatas nasi saya." pemilik rumah berkata sambil tersenyum :
"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !" pemuda itu merenung sejenak karena kuah sayur itu gratis. Lalu ia mengambil kuah sayur dan ia melahap nasi putih itu dengan bernapsu karena sepanjang hari ini ia baru makan. Setelah habis makan ia menghampiri pemilik rumah makan, dan ia memesan semangkuk lagi nasi putih.
"Semangkuk tidak cukup anak muda, baiklah anak muda berikan lebih banyak lagi nasinya." kata pemilik kedai dengan tersenyum ramah kepada pemuda ini.
"Bukan, saya sudah cukup kenyang, nasi ini akan saya bawa pulang, besok akan membawa ke sekolah
sebagai makan siang saya !" sahut pemuda tersebut. Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota , demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini. Melihat perbuatannya, sang istri mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi ?
Suaminya kemudian membisik kepadanya,"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia pergi ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk
bersekolah."
"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya." kata sang istri banga kepada suaminya
"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?" Goda sang suami.
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
Setelah selesai makan sang pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !" kata pemilik rumah makan sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi. Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu. Mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah
kerumah makan tersebut, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi di bungkusnya. Tak terasa pemuda itu telah tamat semenjak ia memakan di rumah makan tersebut. Selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi ke rumah makan.
Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah
surat bahwa rumah makan mereka harus digusur. Sehingga kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan dengan hati yang galau. Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya untuk kalian. Kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya
akan dibagi 2 dengan perusahaan." kata seorang pemuda yang yang bonafid.
"Siapakah direktur diperusahaanmu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" sahut sang suami. sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.
"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya." jawab pemuda itu. Maka berangkatlah suami istri ini menuju perusahan yang meminta mereka di antar oleh pemuda itu. Setelah mereka tiba, mereka di sambut oleh di rektur perusahan itu. Suami istri megamat amati sang di rektur, pikir mereka wajahnya tidaklah asing. Sang di rektuk pun akhirnya memperkenalkan dirinya yang dulu makan nasi putih di rumah makan mereka.
Ternyata pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini telah muncul. Setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan
dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang. Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam2 berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !".
Perjuangan Seorang Istri
Ada seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Da Chanyun demikian namanya, ia memperistri Li Zhengjie yang tidak memilki pendidikan. Da Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou. Setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar RB. 6.5 (atau sekitar Rp. 7.000,-). Suatu hari, di tempat ia mengajar, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup. Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya. Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, meski kamu tidak bisa jalan saya akan menggendongmu sampai sekolah, dan kamu bisa mengajar lagi” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini. Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.
Di sepanjang jalan, Li meraba saat ia menyebrangi sungai di antara bebatuan besar. Jarak yang cukup jauh dengan menggendong suaminya, ia sering merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitipkan ke beberapa murid yang badannya agak besar, lalu ia bergesa-gesa balik pulang.Karena di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan. Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ia merasa ada kekuataan selama ia menjadi istri Da Chanyun. Walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil. Ia tetap menggendong selama 17 tahun.
Pada suatu hari di musim hujan, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih. Untung mereka tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, Li berusaha berjuang untuk bisa keluar dari seretan arus yang kuat. Kebetulan ayahnya Da Chanyun melintasi sungai tersebut. Ketika ia melihat anak da menantunya berjuang melawan arus, ia menarik anak dan menantunya, akhirnya mereka baru berhasil diselamatkan. Mereka lolos dari ancaman maut. Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras tanpa mengenal lelah. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu hatinya merasa iba. Du Chanyun memulai rencana agar sang istri bisa meninggalkannya, ia tak ini sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, akhirnya mereka sungguh-sungguh akan bercerai.
Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat kedatangan mereka, semua orang yang berada di kantor merasa gembira dengan kedatangan mereka. Tiba2 suasana di kejutkan dengan pernyataan mereka yang ingin meminta perceraian mereka. “Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, dan kami tidak mau melayani. kalian pulang saja,” ujar pihak kelurahan. Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya. “Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya akan tetap menggendong kamu sampai tua.” mendengar penuturan istrinya, Da Chanyun memandang istrinya dengan berlinangan air mata. "Meski kamu tidak lagi suka dengan saya, saya tetap akan mencintaimu sampai tua." lanjut istrinya. Sang suami mengembangkan tangannya untuk memeluk istrinya. Istrinya pun mendekat untuk memeluk suami tercintanya.
Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri ini bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, fasilitas pendidikannya sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Chanyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak, sehingga mereka bisa memainkan musik meski hanya dengan daun. Sedang Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan. pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak. Di bawah bantuan sang istri, selama 17 tahun Da Chanyun tidak pernah membolos dalam mengajar. Baik dalam musim dingin, hujan dan panas tidak menjadi halangan buat mereka untuk pergi ke sekolah. Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. keberhasilan dan kegigihan sepasang suami istri ini mendapat sanjungan dari berbagai pihak. Baik dari kalangan masyarakat setempat, pemerintah propinsi dan keluarga besar mereka. ***
Malaikat Penolong
Ini ditulis oleh seorang dokter dari rumah sakit Metro Denver:
Saya dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah pertemuan sore ini sekitar jam 5:00, terjebak dalam kemacetan di jalan di Colorado Blvd., dan tiba-tiba mobil saya mulai tersendat-sendat dan akhirnya mati. Dengan susah payah saya bisa mendekati sebuah pompa bensin, lega karena saya tidak menghalangi jalan dan mencari tempat hangat untuk menunggu mobil derek.
Tapi tidak ada yang mau berhenti. Sebelum saya mulai menelpon, saya melihat seorang wanita berjalan keluar dari sebuah minimart, dan ia terpeleset di jalan es dan jatuh di dekat pompa bensin, saya bergegas ke ibu ini untuk melihat apakah ia baik-baik saja.
Ketika saya tiba disana, terlihat bahwa ia sedang tersedu-sedu lebih karena sedihnya, dan bukan karena jatuhnya; ia adalah seorang gadis muda yang kelihatan begitu awut-awutan dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Ia menjatuhkan sesuatu ketika saya membantu ia bangun, dan saya ambil untuk diberikan ke dia. Ternyata uang logam satu nikel.
Saat itu, saya jadi menyimpulkan: wanita menangis, Suburban tua yang dipenuhi dengan barang-barang dan 3 anak di belakang (1 di tempat duduk depan) , dan meteran pompa menunjukkan $4.95.
Saya bertanya apakah semuanya baik-baik saja dan apakah ia membutuhkan bantuan, dan ia lalu berkata, “Saya tidak ingin anak saya melihat saya menangis!”. Jadi kami berdiri menjauh dari mobilnya ke balik pompa. Ia bercerita bahwa ia sedang menuju ke California dan situasinya sangat sulit buat dia saat ini.
Saya bertanya, “Apakah anda berdoa?”
Ia mundur sedikit, tapi saya yakinkan bahwa saya bukan orang gila dan berkata, “IA mendengar kamu, dan IA mengirim saya.”
Saya mengambil kartu kredit saya dan menggesek di card reader dari pompa tersebut sehingga mobil wanita itu bisa terisi penuh, sementara bensinnya diisi, saya berjalan ke McDonald di sebelah dan membeli 2 kantung besar makanan, beberapa voucher untuk dipakai nanti, dan segelas besar kopi.
Ia memberikan makanan itu kepada anaknya, yang langsung menyambar seperti serigala kelaparan, dan kami berdiri di sebelah pompa sambil memakan kentang dan berbicara sedikit.
Ia memberitahu namanya, menceritakan bahwa ia tinggal di kota Kansas. Teman laki-lakinya meninggalkannya 2 bulan yang lalu sehingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan bisa membayar sewa rumah bulan January nanti.
Dan dalam keadan putus asa ia menelpon orang tuanya yang tidak pernah dihubunginya selama 5 tahun. Mereka tinggal di California dan akhirnya setuju untuk dia tinggal dengan mereka sampai ia bisa mencari uang disana.
Jadi ia mengemas semua barangnya ke dalam mobil milik satu-satunya. Ia memberitahu anak-anaknya bahwa mereka akan ke California untuk merayakan Natal, tetapi tidak memberitahu bahwa mereka akan tinggal disana.
Saya berikan sarung tangan saya, memberikan pelukan kecil dan membacakan sebuah doa cepat bersama dia agar ia selamat dalam perjalanannya. Ketika saya berjalan menuju mobil saya, ia bertanya, “Apakah, Anda malaikat atau apa?”
Ini yang membuat saya terharu. Saya berkata, “Ibu, saat ini malaikat sangat sibuk, sehingga kadang-kadang TUHAN memakai orang biasa.”
Adalah sangat mengharukan untuk menjadi bagian dari keajaiban seseorang. Dan ternyata, Anda sudah bisa menebak, ketika saya menuju ke mobil, ternyata mobil saya bisa langsung distarter dan pulang ke rumah tanpa masalah. Saya akan ke bengkel besok untuk memeriksakan, tapi saya kira teknisi tidak akan mendapatkan sesuatu yang salah.
Sang Pemburu
Pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, "Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?" Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman." Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut. Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Di samping rasa terima kasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.
Membangun Bisnis dari Kursi Roda
Ralph Braun, pendiri BraunAbility, telah menghabiskan hidupnya di kursi roda karena penyakit pada tulang belakangnya. Untuk Braun dapat bergerak dia membangun sebuah skuter bertenaga baterai dan, kemudian, lift untuk kursi roda pada mobilnya. Perlahan-lahan, ia berbalik inovasi ini menjadi sebuah bisnis dengan penjualan $ 200 juta per tahun. Braun akhirnya menutup usaha skuter dan berfokus pada lift. Tapi sebelum ia melakukannya, Braun menjadikan dirinya pasokan seumur hidup untuk skuter. "Itu bagian dari lemari pakaian saya untuk memiliki salah satu triwheelers saya," katanya.
Inilah cerita kehidupan Braun:
Saya dibesarkan di Winamac, Indiana, di tengah ladang jagung, Anda mungkin berkata. Jika Anda menggambar garis lurus antara Indianapolis dan Chicago dan meletakkan jari Anda tepat di tengah garis, itu di mana Anda akan menemukan Winamac.
Ketika saya berumur 6 tahun, saya menemukan bahwa ada sesuatu yang salah. Saya tidak bisa menaiki tangga seperti anak-anak lain di keluarga saya. Orangtuaku membawaku ke sebuah rumah sakit anak-anak di Indianapolis, dan mereka mendiagnosis dengan distrofi otot. (Diagnosis ini kemudian berubah menjadi atrofi otot tulang belakang.) Saya baru saja 14 tahun ketika saya pergi ke sebuah kursi roda. Sangat traumatis, tapi saya punya orang tua yang saya bisa berikan ucapan terima kasih karena telah membantu saya melewati semuanya itu. Ayah saya tidak mau menyerah, dan ia tidak akan membiarkan saya menyerah.
Ketika saya lulus SMA, saya kuliah di negara bagian Indiana untuk satu tahun, tapi saya harus drop out. Kesulitan dalam menelusuri kampus dengan kursi roda standar cukup tinggi. Jadi saya mulai merancang sebuah skuter bertenaga baterai. Paman saya membantu saya dalam hal ini, saya mengembangkan bakat mekanik dari mereka. Setelah sekitar tiga atau empat bulan, saya datang dengan skuter pertama saya. Saya membangunnya di garasi sepupu saya di mana ia diperbaiki peralatan traktor.
Semua orang bilang itu tidak akan berhasil. Saya pikir ini adalah kemampuan yang diberikan Tuhan, karena saya merasa saya dikirim ke sini untuk membantu orang yang cacat mendapatkan mobilitas.
Saya mendapat pekerjaan di sebuah pabrik pasokan otomotif lokal sebagai kontrol kualitas teknisi. Saya dapat menegosiasikan dengan pabrik sangat baik tentang skuter baru saya. Di pekerjaan, orang akan melihat skuter saya dan memberitahu saya bahwa mereka tahu seseorang yang membutuhkannya. Saya melakukan ini selama delapan atau sembilan tahun, membuatnya dengan paruh waktu sampai sekitar tahun 1970.
Transportasi saya waktu itu adalah truk tua yang dikonversi sehingga saya bisa menyetir skuter tepat didalamnya. Tetapi ketika mereka memindahkan pabrik jauh dari rumahku, saya harus mencari sesuatu yang lebih dapat diandalkan. Kebetulan bahwa pada tahun 1970, mobil Dodge muncul dengan ukuran baru yang punya AC dan power steering dan semua barang ini. Ini luar biasa.
Saya mulai mengubah salah satu dari mereka sehingga saya bisa berkendara dari kursi roda. Sebagian besar dilakukan di sini, di Winamac. Orang-orang akan berkendara ke sini dari Massachusetts dan Texas, dan mereka akan menunggu di sebuah motel sementara kami mengubah kendaraan mereka pada akhir pekan. Saya mulai dengan satu karyawan, dan hanya butuh satu bulan atau lebih sebelum aku harus menyewa satu lagi.
Saya terus bekerja di pabrik, karena saat itu saya punya tiga anak, dan saya butuh pendapatan. Saya mengambil semua uang dari membuat skuter dan membangun lift dan memasukkannya kembali dalam bisnis. Saya keluar dari pabrik pada pukul 3:30 sore, lalu pulang dan bekerja sampai larut pagi dan kemudian bangkit kembali dan kembali bekerja di pabrik.
Saya keluar dari pabrik pada tahun 1973 untuk fokus pada bisnis sendiri. Bangunan pertama yang saya sewa bocor begitu banyak, rasanya seperti lebih banyak hujan di dalam daripada di luar. Untungnya, kami berada di gedung itu hanya sembilan bulan sebelum saya melihat sebuah bangunan yang mampu saya beli. Kami berada di sana selama beberapa tahun sebelum terjadi kebakaran yang cukup buruk.
Saya berada di jalan selama tiga sampai empat tahun. Saya pergi ke Michigan, Wisconsin, Kentucky, dan Florida, di mana pun saya bisa menemukan orang-orang yang akan membutuhkan produk ini. Saya menyetir lebih dari 50.000 mil per tahun.
Setelah kebakaran, saya harus membuat keputusan. Dengan veteran yang terluka kembali dari Vietnam, lift sangat dibutuhkan. Kami juga telah mulai menjual van yang sepenuhnya dikonversi. Teknologi di belakang skuter menjadi mudah tersedia, dan mereka bisa dibuat jauh lebih murah di luar negeri. Saya memutuskan untuk fokus pada lift dan konversi van.
Banyak orang-orang cacat dan keluarga mereka segera melihat manfaat dari lift yang saya buat.
Hari ini, kami memiliki lebih dari 200 dealer di seluruh negeri memasang lift dan menjual van konversi kami. Kami melakukan sekitar $ 200 juta dalam penjualan tahun lalu. Markas kami masih di Winamac. Kami juga memiliki tiga bangunan pabrik besar di sini dan lebih dari 700 karyawan.
Ketika saya membangun bisnis ini, saya punya dua kelemahan. Saya masih muda, dan saya adalah orang cacat. Saya tidak pernah membiarkan hal itu menghalangi saya. Saya memberikan usaha ekstra untuk mencapai keberhasilan.
Sumber : Inc.com
Mengubah Sudut Pandang
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur Dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, Dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu :
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak Ada seorangpun di rumah ibu. Tak Ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika Kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.....
Menjadi Paket Berkat
Seorang wanita cantik yang mengenakan baju mahal mendatangi seorang psikiater dengan segudang keluhan, intinya dia merasa hidupnya hampa. Mendengar itu psikiater berkata, "Saya akan menyuruh Mery ke sini untuk menceritakan kepada Anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin Anda mendengarnya." Psikiater itu memanggil Mery, seorang wanita tua yang bertugas sebagai "cleaning service" di kantornya.
Mendengar panggilan itu Mery meletakkan gagang sapunya dan setelah dipersilahkan, ia duduk di kursi sambil berkisah. "Suamiku meninggal akibat malaria. Tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas dalam sebuah kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa, aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku saja. Di suatu sore, seekor anak kucing mengikutiku saat aku pulang. Waktu itu cuaca di luar dingin, karena kasian aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah dan memberinya susu. Setelah kenyang anak kucing itu bermanja-manja di kakiku, saat itulah untuk pertama kalinya aku bisa tersenyum kembali. Sesaat kemudian aku berpikir, jika membantu seekor anak kucing saja bisa membuatku tersenyum, aku pasti akan bahagia jika melakukan sesuatu bagi orang lain. Di hari berikutnya aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur. Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang dan hal itu membuatku bahagia. Ya, tatkala melihat orang lain bahagia akupun menjadi bahagia. Aku tahu banyak orang yang bisa tidur dan makan lebih dariku, tetapi aku telah menemukan kebahagiaan ketika aku memberi dalam keterbatasanku."
Ketika si wanita kaya mendengarkan penuturan wanita yang sangat sederhana itu, butiran-butiran air bening mengalir di pipinya. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa di beli dengan uang, namun kehilangan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kita sibuk menghitung berkat, sibuk bersyukur atas berkat-berkat Tuhan, dan terus menjadi berkat, apakah akan masih ada waktu untuk bersungut-sungut ?
Izaak Walton berkata, "Tuhan hanya berdiam di dua tempat : di sorga dan di hati orang yang tahu bersyukur." Bersyukurlah, kerena setiap hari Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengecap dan merenungkan segala kebaikkanNya. Saat kita merenungkan semua kemurahan hatiNya, maka hati kita akan bergerak untuk menjadikan hidup kita berharga dan berguna. Kita akan terpacu untuk berbuat sesuatu yang menjadikan kita paket berkat bagi sesama.
Orang yang paling malang di dunia adalah orang yang kehilangan kesempatan untuk bersyukur atas segala berkat yang Tuhan berikan dan tidak pernah mengalami kebahagiaan karena menjadi berkat bagi orang-orang lain. Apakah kita akan menjadi orang yang malang atau orang yang beruntung, keputusan ada di tangan kita masing-masing.
Lima Menit Lagi Ayah
Di taman bermain pada satu hari, duduk seorang wanita di samping pria di bangku taman di dekat tempat bermain anak-anak.
“Itu anak laki-laki saya di sebelah sana,” kata wanita tersebut sambil menunjuk seorang anak kecil dengan sweter merah yang sedang meluncur ke bawah seluncuran.
“Dia kelihatan anak yang baik” pria tersebut berkata. “Itu anak perempuan saya yang berpakaian putih dan sedang mengendarai sepeda.”
Lalu, setelah melihat jam tangannya, dia memanggil anak perempuannya itu. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang, Mellisa?”
Mellisa memohon, “Lima menit lagi ya, Ayah. Ya? Cuma lima menit lagi kok.”
Pria tersebut mengangguk dan Mellisa melanjutkan mengendarai sepedanya dengan senang hati. Menit-menit berlalu dan sang ayah berdiri dan memanggil lagi putrinya tersebut. “Saatnya untuk pergi sekarang?”
Sekali lagi Mellisa memohon, “Lima menit lagi, Ayah. Cuma lima menit lagi…”
Pria itu tersenyum dan berkata, “OK”
“Wow, Anda tentunya seorang ayah yang sabar,” kata wanita yang di sampingnya.
Pria itu tersenyum menanggapi dan berkata, “Kakak laki-lakinya, Tommy terbunuh karena seorang pemabuk yang menyetir tahun lalu ketika dia sedang bersepeda di dekat sini. Aku tidak pernah menghabiskan banyak waktu dengan Tommy dan sekarang aku bersedia memberikan apapun agar bisa menghabiskan waktu lima menit saja dengannya. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan Mellisa. Mellisa pikir dia punya lima menit lebih banyak untuk bersepeda. Kenyataannya, aku mendapatkan lima menit lebih banyak untuk menontonnya bermain.”
Hidup adalah tentang membuat prioritas, apa yang menjadi prioritas Anda? Sudahkah Anda menghabiskan lima menit lebih banyak dengan Tuhan? Sudahkah Anda memberikan waktu Anda lebih banyak kepada keluarga Anda? Beri waktu lima menit dan lima menit lagi kepada orang yang Anda kasihi, saat ini dan setiap waktu yang Anda punya.
Lantai Batu Pualam
Alkisah terdapat sebuah museum yang lantainya terbuat dari batu pualam yang indah. Di tengah-tengah ruangan museum itu dipajang sebuah patung pualam pula yang sangat besar. Banyak orang datang dari seluruh dunia mengagumi keindahan patung pualam itu. Suatu malam, lantai pualam itu berkata pada patung pualam.
Lantai Pualam: “Wahai patung pualam, hidup ini sungguh tidak adil. Benar-benar tidak adil! Mengapa orang-orang dari seluruh dunia datang kemari untuk menginjak-injak diriku tetapi mereka mengagumimu? Benar-benar tidak adil!”
Patung Pualam: “Oh temanku, lantai pualam yang baik. Masih ingatkah kau bahwa kita ini sesungguhnya berasal dari gunung batu yang sama?”
Lantai Pualam: “Tentu saja, justru itulah mengapa aku semakin merasakan ketidakadilan itu. Kita berasal dari gunung batu yang sama, tetapi sekarang kita menerima perlakuan yang berbeda. Benar-benar tidak adil!”
Patung Pualam: “Lalu apakah kau masih ingat ketika suatu hari seorang pemahat datang dan berusaha memahat dirimu, tetapi kau malah menolak dan merusakkan peralatan pahatnya?”
Lantai Pualam: “Ya, tentu saja aku masih ingat. Aku sangat benci pemahat itu. Bagaimana ia begitu tega menggunakan pahatnya untuk melukai diriku. Rasanya sakit sekali!”
Patung Pualam: “Kau benar! Pemahat itu tidak bisa mengukir dirimu sama sekali karena kau menolaknya.”
Lantai Pualam: “Lalu?”
Patung Pualam: “Ketika ia memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya pada dirimu, lalu ia berusaha untuk memahat tubuhku. Saat itu aku tahu melalui hasil karyanya aku akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda. Aku tidak menolak peralatan pahatnya membentuk tubuhku. Aku berusaha untuk menahan rasa sakit yang luar biasa.”
Lantai Pualam: “Mmmmmm….”
Patung Pualam: “Kawanku, ini adalah harga yang harus kita bayar pada segala sesuatu dalam hidup ini. Saat kau memutuskan untuk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi pada dirimu sekarang.”
Dunia ini tidak selalu membawa kebahagiaan, ada kalanya kita harus menderita. Saat itulah kita diuji, jika kita dapat melalui ujian tersebut, kebahagiaan akan datang.
Kisah Balon Merah
Seorang bapa memiliki dua orang anak. Setiap kali bila mereka memiliki waktu bebas, maka ia akan membawa kedua anaknya ke lapangan luas dan melepaskan balon-balon ke udara. Anehnya, balon-balon yang dilepaskan itu semuanya berwarna merah. Setiap kali mereka datang ke lapangan itu pasti balon merahlah yang dilepaskan.
Suatu saat sang ayah ditugaskan untuk bekerja di kota lain. Pada saat hendak meninggalkan rumah ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa bila mereka sungguh amat merindukan kehadiran sang ayah, maka mereka hendaknya melepaskan balon merah agar ditiup angin ke langit lepas. Dan dengan melihat balon tersebut sang ayah bisa mengetahui kalau mereka sedang merindukan kehadirannya.
Ternyata kepergian sang ayah bukanlah suatu perpisahan yang singkat. Kedua anak tersebut menanti dengan penuh rindu, dan berulang kali melepaskan balon merah ke udara. Namun tetap saja tak berguna karena ayahnya yang bekerja di tempat yang jauh tak pernah mampu melihat balon yang dilepaskan tersebut.
Suatu hari, kedua anak tersebut secara sembunyi-sembunyi sekali lagi melepaskan balon merah. Para tetangga merasa begitu iba dan terharu melihat betapa besar kerinduan kedua anak tersebut untuk bertemu sang ayah. Karena itu semua tetangga lalu ramai-ramai membeli jutaan balon dan menjadikan saat itu sebagai saat istimewa bagi warga tetangga tersebut. Semua beramai-ramai menuju lapangan luas dan melepaskan jutaan balon merah ke udara. Ke mana saja mata memandang, yang kelihatan adalah warna balon merah yang menakjubkan. Keajaiban balon merah tersebut ditangkap oleh seorang reporter. Dan...tatkala melihat berita keajaiban tersebut, sang ayah tahu bahwa kedua anaknya sedang merindukan kehadirannya, dan dengan segera melepaskan kesibukannya untuk kembali memberikan kasih sayang kepada kedua anaknya tersebut. Balon merah sungguh telah menjadi sarana yang menyatukan mereka kembali.
Kitapun memiliki kerinduan akan kehadiran Cinta Tuhan dalam diri kita dan hidup kita. Apakah kitapun sering melepaskan balon merah sebagai ungkapan tanda kerinduan kita akan kehadiran Bapa di surga??
Kasih Terbesar
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…”
Pada suatu siang, sebuah peluru mortir mendarat di sebuah panti asuhan di sebuah perkampungan kecil Vietnam. Seorang petugas panti asuhan dan dua orang anak langsung tewas, beberapa anak lainnya terluka, termasuk seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun.
Orang-orang dari kampung tersebut segera meminta pertolongan medis dari kota terdekat. Akhirnya, seorang dokter Angkatan Laut Amerika dan seorang perawat dari Perancis yang kebetulan berada di kota itu bersedia menolong. Dengan membawa Jeep yang berisi obat-obatan dan perlengkapan medis mereka berangkat menuju panti asuhan tersebut.
Setelah melihat keadaan gadis kecil itu, dokter menyimpulkan bahwa anak tersebut sudah dalam keadaan yang sangat kritis. Tanpa tindakan cepat, anak itu akan segera meninggal kehabisan darah. Transfusi darah adalah jalan terbaik untuk keluar dari masa kritis ini.
Dokter dan perawat tersebut segera mengadakan pengujian singkat kepada orang-orang di panti asuhan - termasuk anak-anak, untuk menemukan golongan darah yang cocok dengan gadis kecil itu. Dari pengujian tersebut ditemukan beberapa orang anak yang memiliki kecocokan darah dengan gadis kecil tersebut.
Sang dokter, yang tidak begitu lancar berberbahasa Vietnam - berusaha keras menerangkan kepada anak-anak tersebut - bahwa gadis kecil itu hanya bisa ditolong dengan menggunakan darah salah satu anak-anak itu. Kemudian, dengan berbagai bahasa isyarat, tim medis menanyakan apakah ada di antara anak-anak itu yang bersedia menyumbangkan darahnya bagi si gadis kecil yang terluka parah.
Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan, tetapi dalam keraguan ia menurunkan tangannya lagi, walaupun sesaat kemudian ia mengacungkan tangannya lagi.
“Oh, terima kasih,” kata perawat itu terpatah-patah. “Siapa namamu ?”
“Heng,” jawab anak itu.
Heng kemudian dibaringkan ke tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini, Heng terbaring kaku, tidak bergerak sama sekali.
Namun, beberapa saat kemudian ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan tangannya yang bebas.
“Apakah engkau kesakitan, Heng ?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian Heng menangis lagi, kali ini lebih keras. Sekali lagi dokter bertanya, apakah jarum yang menusuknya tersebut membuatnya sakit, dan Heng menggelengkan kepalanya lagi.
Tetapi tangisan itu tidak juga berhenti, malah makin memilukan. Mata Heng terpejam rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan isakan tangis.
Tim medis itu menjadi khawatir, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Untunglah seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil itu yang tampak tertekan - ia berbicara cepat dalam bahasa Vietnam. Perawat Vietnam itu mendengarkan jawaban anak itu dengan penuh perhatian, dan kemudian perawat itu menjelaskan sesuatu pada Heng dengan nada suara yang menghibur.
Anak itu mulai berhenti menangis - dan menatap lembut mata perawat Vietnam itu beberapa saat. Ketika perawat Vietnam itu mengangguk - tampak sinar kelegaan menyinari wajah Heng.
Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada dokter Amerika tersebut, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham. Ia mengira anda memintanya untuk memberikan seluruh darahnya agar gadis kecil itu tetap hidup.”
“Tetapi kenapa ia tetap mau melakukannya ?” tanya sang perawat Perancis dengan heran.
Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada Heng.. dan Heng pun menjawab dengan singkat :
“Ia sahabat saya..”
(Seperti yang ditulis oleh Kolonel dr. John W. Mansur, - termuat dalam buku “The Missileer”, New York)
Kasih Ibu dan Tiga Karung Berasnya
Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.
Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut dan kemudian berkata kepada ibunya: "Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana".
Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : "Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".
Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.
Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !". Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.
Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi." Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.
Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.
Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu, sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru-buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya dan akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."
Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi Qing Hua dengan nilai 627 point.
Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi." Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku..................”
Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang zaman dan sepanjang kenangan." Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagiaan serta sukses di masa depannya.
Kakek Dan Kacamatanya
Ayah ibu saya bekerja sebagai seorang tukang kayu. Pada suatu hari, dia membuat beberapa peti kayu untuk mengisi pakaian yang akan dikirim oleh gerejanya ke panti asuhan di China. Setelah selesai membantu di gereja ia berangkat pulang. Di dalam perjalanan pulang, dia memasukkan tangan ke kantung bajunya untuk mengambil kaca matanya, tapi kaca matanya sudah hilang. Saat dia memikirkan ulang apa yang ia lakukan sebelumnya, ia tiba-tiba sadar - kaca matanya pasti telah terjatuh dari kantungnya ke dalam salah satu peti kayu. Semua peti-peti kayu itu sudah dipakunya dan siap dikirim. Kaca matanya yang baru dibuat itu sedang dalam perjalanan menuju ke China!
Pada waktu itu Amerika sedang mengalami krisis ekonomi dan kakek mempunyai enam anak. Dia telah menghabiskan uang USD 20 pada pagi itu untuk membuat kaca mata itu. Kakek merasa agak tertekan karena harus membeli sepasang kaca mata lagi. Saat ia menyetir pulang dengan perasaan kecewa ia berkata kepada Tuhan, "Tidak adil. Saya telah sangat setia memberi waktu dan uang saya untuk pekerjaan Engkau, dan sekarang hal begini yang terjadi".
Beberapa bulan kemudian, sang direktur pengelola panti asuhan di China itu pulang ke Amerika untuk cutinya. Ia mengunjungi semua gereja yang telah mendukung pelayanannya di China, jadi pada suatu hari Minggu ia berkhotbah di gereja kecil tempat kakek saya beribadah di Chicago. Missionaris itu bermula dengan mengucapkan terima kasih kepada jemaat yang telah setia mendukung pelayanannya.
Tapi di atas semuanya itu, dia berkata, "Saya harus mengucapkan terima kasih untuk kaca mata yang telah dikirim kepada saya. Anda lihat, kaum Komunis baru saja melakukan sweeping di panti asuhan dan membinasakan segala sesuatu, termasuk kaca mata saya.
Saya sudah hampir putus asa. Karena, sekalipun saya punya uang, sama sekali tidak mungkin untuk saya menggantikan kaca mata saya telah hancur itu.
Bukan saja saya tidak dapat melihat dengan baik tanpa kaca mata, tapi setiap hari saya mengalami sakit kepala yang parah. Jadi teman-teman sekerja saya berdoa keras untuk hal ini. Saat staf saya membuka peti kayu yang dikirim, mereka menemukan sepasang kaca mata di atas pakaian-pakaian yang dikirim."
Misionaris itu berhenti sejenak sebelum dengan melanjutkan kisah ajaib ini, "Anda tahu, saat saya memakai kaca mata itu, semuanya pas, seolah-olah kaca mata itu memang dibuat khusus untuk saya!"
Saya mau mengucapkan terima karena Anda telah menjadi bagian dari peristiwa yang luar biasa ini.
Jemaat mendengarkan dengan senang. Tapi, pikir mereka, misionaris ini pasti sudah membingungkan jemaat ini dengan jemaat di tempat yang lain. Karena di dalam daftar barang yang mereka kirim ke China, tidak ada kaca mata.
Namun, seorang tukang kayu yang sederhana duduk di bangku belakang gereja dengan air mata yang berlinangan menyadari bahwa Sang Tukang Kayu yang Agung telah memakainya dengan cara yang luar biasa.
Ada kalanya, kita mengalami sesuatu dan kita mau menyalahkan Allah. Kita harus berusaha untuk lebih sering mengucapkan syukur kepada-Nya dalam segala hal, apakah baik ataupun buruk menurut penilaian kita pada waktu itu. Ingatlah bahwa jalan dan rancangannya Tuhan seringkali berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan.
(Walaupun tidak dapat dibuktikan, tapi kisah di atas dikatakan telah ditulis oleh Harry S Truman, Presiden Amerika Seikat yang ke-33)
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)















