Kisah Nyata : Persahabatan Anak Kuda Nil dan Kura-Kura Tua
Owen adalah seekor bayi kudanil
yang terpisah dari kedua induknya setelah bencana dahsyat tsunami pada tahun
2004 yang lalu. Ia diberi nama “Owen” yang diambil dari nama seseorang yang
menyelamatkannya. Adalah menarik untuk disimak, tentang kisah persahabatan yang
terjalin antara dua spesies hewan yang berbeda, yakni Owen sang kudanil, dan
Mizee, seekor kura-kura Aldabran. Berikut adalah kisah mereka:
Sehari setelah tragedi tsunami
dahsyat Samudera Hindia yang menghantam Asia dan Afrika, puluhan penduduk desa
tepi Pantai Malindi di Kenya melakukan tugas penyelamatan bersama aparat
setempat.
Saat itulah Owen Saubion melihat pemandangan ganjil di kawasan tepi pantai itu. Ia melihat bayi kuda nil yang masih berusia 1 tahun itu meringkuk lemas di batu karang. Kondisinya sangat memprihatinkan. Ia terjebak di antara gelombang laut dan derasnya air dari muara Sabaki River.
Setelah dirawat, kudanil itu pun akhirnya dibawa ke Haller Park dekat Mombasa, sebuah taman suaka margasatwa milik Lafarge Eco Systems’ East African firm, pada 27 Desember 2006. Di suaka margasatwa Haller Park inilah kisah persahabatan unik itu dimulai. Bayi kudanil itu kemudian diberinama Owen, sesuai nama penyelamatnya.
Petugas suaka menempatkannya di sebuah area untuk hewan-hewan kecil. Langkah ini dilakukan karena Owen masih tergolong bayi. Sementara jika di tempatkan di lokasi untuk kawanan kudanil, petugas perawat hewan khawatir ia akan diserangan kawanan kudanil lain yang tak mengenalnya. Karena kudanil sangat agresif dan “fanatik” pada kawanannya, bila ada kudanil asing mereka bisa saja membunuhnya.
Ketika Owen dilepas, ia masih bingung. Mungkin karena harus menempati lingkungan baru. Namun setelah ia merasa sedikit nyaman, Owen langsung menatap dan tertarik pada seekor kura-kura bernama Mzee.
Mzee, adalah spesies kura-kura Aldabran usia 130 tahun seberat 700 pound (320 kg). Mzee yang dalam bahasa Swahili (Afrika) berarti “wise old man” (si tua bijaksana), merupakan penghuni lama area yang dilengkapi dengan kolam asri dan hutan buatan itu.
Awalnya, Owen langsung beranjak
mendekati Mzee. Namun Mzee sama sekali tak peduli padanya. Hari demi hari Owen
selalu mengikuti Mzee ke mana pun ia pergi. Agaknya Owen berupaya mengambil
hati Mzee. Seiring waktu dan kegigihan Owen mendekatinya, Mzee akhirnya
menerima kehadiran kudanil muda itu.
Berminggu-minggu kemudian keduanya sudah tampak begitu akrab. Mzee layaknya dianggap sebagai induk oleh Owen, sementara Mzee merasa sebagai orangtua asuh bagi Owen. Bukan hanya dalam kiasan, pada kenyataannya Mzee selalu menjaga Owen dengan kelembutan. Owen juga selalu mematuhi dan senang bermain dengan Mzee.
Ikatan persahabatan mereka mengental bagai sebuah keluarga. Para perawat hewan di Haller Park bingung dengan tingkah dua hewan beda spesies ini. Mereka bagaikan induk dan anak dari satu spesies yang sama.
Apa yang disantap Mzee juga disantap Owen, di mana Owen tidur di situ pasti ada Mazee. Mereka selalu bermain air di kolam bersama, makan bersama, tidur bersama dan berjalan-jalan keliling area taman bersam-sama pula.
Setahun berlalu, namun kedua
hewan beda spesies itu semakin lengket. Keduanya sudah tak terpisahkan lagi.
Fenomena ini sungguh mengejutkan sejumlah besar ilmuwan.
Bukannya saja karena peristiwa seperti ini belum pernah terjadi, tetapi di antara mereka juga sudah mengembangkan “bahasa” mereka sendiri sebagai sistem komunikasi di antara keduanya. Bahasa komunikasi lewat suara yang sama sekali belum pernah ditemukan dalam kelompok kudanil atau pun kura-kura Adabran.
Suara dalam nada tertentu dari Mzee akan direspons oleh Owen secara tepat. Begitu pula sebaliknya, suara dalam nada tertentu dari Owen direspons Mzee pula secara tepat.
Selain itu, keduanya juga mengembangkan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua pahami, seperti gigitan lembut, sentuhan, dorongan dan belaian yang masing-masing direspons sebagai suatu kode untuk melakukan sesuatu atau ungkapan kasih sayang di antara keduanya.
Keunikan persahabatan Owen dan Mzee pun menjadi fenomena mendunia. Tingkah laku dan komunikasi unik yang sama sekali baru dalam dunia zoologi (ilmu tentang hewan) itu membuat mereka menjadi selebriti dunia.
Sejumlah besar foto, film, dokumentasi, bahkan buku dan artikel mengulas soal teka-teki besar persahabatan mereka. Owen dan Mzee pun menjadi lambang cinta dan persahabatan yang tidak mengenal batasan fisik, ras, spesies dan teritori.
Upaya Mengembalikan Sifat Asli
Owen
Fenomena persahabatan unik Owen dan Mzee mengundang tanda tanya. Mengapa kedua hewan yang sama sekali beda spesies itu bisa akrab dan mengembangkan bahasa komunikasi mereka sendiri? Teka-teki ini menjadi misteri besar dalam dunia fauna.
Hans Klingel seorang profesor zoologi di University of Braunschweig di Jerman dan ahli kudanil mengatakan, kudanil umumnya adalah hewan sosial. “Mereka adalah hewan sosial,” katanya seperti yang dikutip dari situs National Geographic. “Dalam keadaan itu, mereka menikmati apa yang mungkin bisa mereka nikmati.”
Pendapatnya itu diajukan setelah setahun ikatan persahabatan unik terjalin antara Owen dan Mzee, setahun setelah tsunami dahsyat yag terjadi di pantai Afrika. Sebuah pandangan ahli yang memang menegaskan persahabatan dua hewan mungkin saja terjadi terutama pada kudanil muda seperti Owen.
Sementara pengamatan dan penelitian staf Haller Park, tingkah Owen saat berada di suaka itu menjadi lebih mirip “kura-kura” daripada kudanil. Owen menyantap makanan kura-kura, seperti dedaunan dan wortel dan tak berselera pada rumput yang menjadi makanan kudanil sesungguhnya. Ia juga tidur di malam hari, yang sungguh berbeda dengan kebiasaan kudanil yang tidur di siang hari. Owen juga tak merespon atau tergugah dengan suara-suara kudanil lain yang berbeda kandang dengannya di suaka tersebut.
“Mereka (Owen dan Mzee) justru menciptakan bahasa suara mereka sendiri, yang hanya mereka bedua pahami,” kata Dr Paula Kahumbu, Direktur Haller Park dalam sebuah pernyataan. Menurutnya, tak ada komunikasi sejenis yang ditemukan dalam spesies kudanil maupun kura-kura.
Selain menimbulkan keheranan, kedekatan Owen dan Mzee juga memancing kekhawatiran. Sebab, Owen tetaplah seekor kudanil yang akan tumbuh besar menjadi berbobot 3,2 ton, sementara Mzee akan semakin menua sebagai kura-kura yang lemah. Para penjaga suaka dan ahli takut suatu saat Owen bisa saja membuat Mzee cedera atau bahkan membunuhnya secara tak sengaja dalam sebuah permainan atau saat mereka tidur. Maka diupayakan untuk memisahkan kedua hewan tersebut sekaligus untuk mengembalikan sifat-sifat asli mereka.
Dr Kahumbudan rekan-rekan lainnya mencoba merekonstruksi kehadiran kudanil perempuan kecil lain ke area Owen dan Mzee. Kudanil itu diberi nama Cleo. Para peneliti berharap agar Owen dan Cleo bisa saling bersahabat pula. Jika hal itu terjadi maka Owen dan Cleo akan ditempatkan dalam area baru bersama untuk membentuk kawanan mereka sendiri terpisah dari Mzee. Untuk tahap awal, Mzee akan diikutsertakan, agar Owen tidak sedih, stres dan trauma. Jika kedua kudanil itu cocok, maka Mzee akan dikembalikan ke lingkungan kura-kura lain di suaka tersebut.
sumber:www.rismaka.net
Kisah Sukses Adam Khoo
Ada satu cerita tentang orang
Singapura yang bernama Adam Khoo. Pada umur 26 tahun dia mempunyai empat bisnis
yang beromzet US$ 20juta. Ketika umur 12 tahun Adam dicap sebagai orang yang
malas, bodoh, agak terbelakang dan tidak ada harapan. Ketika masuk SD, dia
benci membaca; maunya hanya main game computer dan nonton TV. Karena tidak
belajar, banyak nilai F yang membuat dia semakin benci kepada gurunya; benci
belajar, bahkan juga benci terhadap sekolah
Saat duduk di kelas 3 dia dikeluarkan dari sekolah, dan pindah ke sekolah yang lain. Ketika mau masuk SMP, dia ditolak 6 sekolah, dan akhirnya masuk sekolah yang terjelek. Di sekolah yang begitu banyak orang bodohnya dan tidak diterima di sekolah yang baik itu, Adam Khoo termasuk yang paling bodoh. Di antara 160 murid seangkatan, Adam Khoo menduduki peringkat 10 terbawah.
Orangtuanya panik dan menirim dia ke banyak les, tapi hal itu tidak menolong sama sekali. Di sebuah sekolah dengan nilai 0-100, rata-rata nilainya adalah 40. Bahkan guru matematikanya pernah mengundang ibunya dan bertanya, “Kenapa di SMP kelas 1, Adam Khoo tidak bisa mengerjakan soal kelas 4 SD?”
Pada umur 13 tahun, Adam Khoo dikirim ke Super-Teen Program yang diajari oleh Ernest Wong, yang menggunakan teknologi Accelerated Learning, Neuro Linguistic Programming (NLP) dan Whole Brain Learning. Sejak saat itu keyakinan Adam Khoo berubah. Ia yakin bahwa dia bisa. Ditunjukkan oleh Ernest Wong bahwa semua orang bisa menjadi genius dan menjadi pemimpin walaupun awalnya goblok sekalipun. Dikatakan oleh Ernest Wong , “Satu-satunya hal yang bisa menghalangi kita adalah keyakinan yang salah serta sikap yang negative.” Kata-kata ini mempengaruhi Adam Khoo. Dia akhirnya memiliki keyakinan bahwa kalau ada orang yang bisa mendapatkan nilai A, dia juga bisa. Selama ini Adam Khoo bodoh, karena dia masih muda, naïf, dan menerima sepenuh hati kata-kata orang lain yang negative.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Adam Khoo berani menentukan target-nya, yaitu mendapatkan nilai A semua. Dia menentukan goal jangka pendeknya, yaitu masuk Vitoria Junior College (SMA terbaik di Singapura), tujuan jangka panjangnya masuk National University of Singapore dan menjadi murid terbaik disana.
Ketika kembali ke sekolah, Adam Khoo langsung take action dengan menempel kata-kata motivasional yang dia gambar sendiri dan belajar menggunakan cara belajar yang benar (yang selama ini tidak diajarkan di sekolah manapun), menggunakan teknik membaca cepat, cara mencatat menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan teknik super memori, dan ketika Adam Khoo ditanyai oleh gurunya, dia bisa menjawab dengan tepat.
Ketika teman-teman dan gurunya bertanya apa yang akan dia raih, dijawab oleh Adam Khoo bahwa dia akan menjadi ranking No.1 di sekolahnya, masuk Victoria Junior College dan National University of Singapore. Semua orang menertawakannya, karena tidak pernah terjadi dalam sejarah bahwa lulusan SMP tersebut masuk Victoria Junior College dan National University of Singapore. Bukannya jadi loyo karena di tertawakan, Adam Khoo malah semakin tertantang untuk semakin bekerja dengan cerdas dan keras untuk mencapai impian dan mengubah sejarah.
Dalam waktu 3 bulan rata-rata nilainya naik menjadi 70. Dalam satu tahun, dari ranking terbawah dia menduduki ranking 18. dan ketika lulus SMP, dia menduduki ranking 1 dengan Nilai Ebtanas Murni A semua untuk 6 mata pelajaran yang diuji. Dia kemudian diterima di Victoria Junior College dan mendapatkan nilai A bulat untuk tiga mata pelajaran favoritnya. Akhirnya dia diterima di National University of Singapore (NUS) dan karena di universitas itu dia setiap tahun menjadi juara, akhirnya Adam Khoo dimasukkan ke NUS Talent Development Program. Program ini diberikan khusus kepada TOP 10 mahasiswa yang dianggap jenius.
Bagaimana seorang yang tadinya dianggap bodoh, agak tebelakang, dan tidak punya harapan, serta menduduki ranking terendah di kelasnya bisa berubah, menjadi juara kelas dan dianggap genius? Nah, Anda sudah tahu apa yang dikatakan oleh Ernest Wong, “Yang menghambat kita adalah keyakinan yang salah dan sikap yang negative”.
Kesuksesan Adam Khoo pertama datang dari perubahan keyakinan yang salah menjadi keyakinan yang tepat (dari keyakinannya “Saya bodoh, lulus saja susah” menjadi “Kalau orang lain bisa mendapatkan A, saya juga bisa!”)
Kunci suksesnya yang kedua adakah bahwa dia mempunyai tujuan yang mantap (“Nilai saya harus A semua, juara 1, masuk Victoria Junior College, masuk NUS dan menjadi terbaik disana”)
Kunci suksesnya yang ketiga ialah bahwa dia mempunyai alasan yang sangat kuat. Dia bahkan mengucapkan public commitment di depan taman-teman, bicara di depan kelas dan ditertawakan. Akibatnya, kalau tidak dapat nilai A, dia akan malu luar biasa; sedangkan bila mendapat nilai A, dia akan bangga luar biasa.
Kunci suksesnya yang keempat adalah bahwa dia mempunyai starategi yang tepat untuk belajar. Dia menggunaka teknik membaca cepat, cara mencatat menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan kedua belah otak, dan menggunakan teknik super memori.
sumber:andiazhari.com
Foto Indah Artistik Dengan Seni X-Ray
Artist Hugh Tervey menggunakan X-Ray untuk menangkap beberapa foto bunga yang luar biasa indah . Dia menggunakan teknik x-ray untuk membuat gambar rinci serius di mana ia menambahkan mewarnai beberapa dengan tangan. Secara keseluruhan setiap bagian dari karyanya adalah seni yang unik yang banyak terdapat di apartemen .
sumber:
planetoddity.com
Kisah Mengharukan Dibalik Mainan Murah RRC
Buruh anak RRC mengalami
pemerasan yang tidak semestinya. Foto merupakan salah satu pabrik mainan di
Provinsi Zhejiang.
Karena harga yang murah, mainan buatan RRC banyak digemari oleh para konsumen, dan menduduki 80% pangsa pasar dunia. Menjelang tibanya gelombang belanja konsumtif dalam rangka natal, Tim Hunt yang bekerja di majalah Ethical Consumer menulis sebuah artikel di Webbell, yang isinya menghimbau agar para konsumen mengalihkan perhatian pada biaya-biaya tersembunyi yang ada di balik setiap produk tersebut: yakni efek pengrusakan berat terhadap lingkungan, dan pengeluaran biaya sosial yang sangat tinggi, terutama terhadap para buruh anak yang mengalami pemerasan yang sangat menyedihkan.
Di dalam kondisi yang diselimuti oleh bayangan gelap depresi ini, seiring dengan semakin dekatnya perayaan natal, Asosiasi Pedagang Retail Mainan Inggris mengumumkan sebuah daftar yang berisikan jenis mainan yang “terjangkau”. Namun majalah Ethical Consumer menerbitkan sebuah laporan yang dengan langsung membeberkan, bahwa di balik semua mainan yang indah lagi murah tersebut tersembunyi biaya sosial dan lingkungan hidup yang tidak diketahui umum.
Dengan produk mainan robot Transformer produksi perusahaan mainan AS raksasa Hasbro Inc. sebagai contoh, disebutkan bahwa mainan tersebut diproduksi dengan menggunakan bahan PVC di RRC. Menurut informasi, bahan kimia ini mengandung unsur yang dapat mengakibatkan kanker, dan dalam proses produksi dapat menghasilkan emisi turunan beracun seperti zat merkuri dan lain sebagainya.
Hasbro membantah dengan mengatakan bahwa pihaknya telah “berhati-hati” dalam mempertimbangkan hal ini, dan produk mereka hingga saat ini tidak akan mengancam keselamatan anak -anak. Sebuah organisasi perlindungan lingkungan hidup di AS–“Pusat Keadilan dan Kesehatan Lingkungan” menekan-kan kembali, bahwa PVC yang ditambah Phthalates (unsur pelunak plastik) berlebihan, bahan-bahan kimia tersebut begitu mencair akan mengancam keselamatan anak-anak, Greenpeace menyebutnya sebagai “plastik beracun”.
Kenyataannya, bahaya dari Phthalates ini sudah sejak dini disoroti oleh kalangan produsen mainan Eropa dan sejumlah negara Uni Eropa, dan telah distandarisasi. Mereka secara khusus membatasi kandungannya dalam produksi mainan dan produk perlengkapan bayi, serta lingkup aplikasinya, pada 2005 dikeluarkan undang-undang larangannya, lalu pada 2007 undang-undang dilaksanakan secara ketat.
Di balik mainan murah RRC, berderai air mata darah buruh anak
Sebuah artikel menyebutkan, Hasbro telah menuai kritik keras akibat mengabaikan penyuplai China yang sangat buruk perilaku HAM-nya. Artikel menjelaskan bahwa mainan RRC mencakup 80% pangsa pasar dunia, namun di balik semua produk tersebut masalah HAM pada umumnya telah diabaikan. Dewan Buruh Nasional AS dalam laporannya “Mimpi Buruk di Sesame Street” tahun lalu telah menyampaikan sejumlah masalah yang berhubungan dengan hal ini. Artikel lebih lanjut mengecam perilaku para produsen di RRC yang melakukan penindasan HAM terhadap para buruh anak.
Saat laporan tersebut dilansir, perusahaan pemasok bernama Kaida di RRC diketahui memiliki sejumlah buruh anak dan anak berusia kurang dari 16 tahun yang bekerja di pabrik itu. Lingkungan kerja di pabrik tersebut sangat berbahaya dan tidak manusiawi; buruh anak di situ sering terkena cairan pengencer dan pelapis kimia yang beracun, namun perusahaan hanya memiliki perangkat pelindung diri yang amat kasar. Setiap hari mereka bekerja selama 12 jam, 7 hari dalam seminggu, dan terus bekerja selama berbulan-bulan tanpa libur.
Saat menjelang puncak musim belanja perayaan natal, setiap anak bahkan dipaksa untuk menambah jam kerja hingga 19-23 jam sehari. Setelah dipotong biaya menginap dan makan, setiap anak setiap jamnya hanya memperoleh upah sebesar 0,28 dollar AS (sekitar Rp 2.800,-).
Beralih ke mainan yang manusiawi, wujud simpati nasib buruh anak China
Melihat keadaan sekarang, di bawah sistem pemerintahan PKC yang “partai tunggal besar” ini, masa depan para buruh anak tidaklah optimis. Laporan juga membimbing khalayak untuk berpikir: adanya pasar yang konsumtif telah memberikan kesempatan bagi para pengusaha nakal di RRC. Tim Hunt pun memberi contoh sejumlah mainan produk Jerman yang diproduksi dengan cara manusiawi dan harga yang tidak terlalu mahal, sebagai referensi bagi para konsumen:
Perusahaan mainan Jerman, Holz Toys, hanya menggunakan produk dari pabrik-pabrik di Eropa yang para karyawannya mendapatkan jaminan hak; selain itu, produk kayu dari Holz bahkan sudah memperoleh sertifikasi dari Dewan Pengelola Hutan yakni FSC, serta sesuai dengan prinsip hutan yang abadi.
Pertimbangan aspek manusiawi ini juga tidak hanya sebatas pada material yang dipergunakan saja. Mainan yang diproduksi oleh Maya Organic dihasilkan dari kayu lokal setempat, mengutamakan pada penebangan terhadap dahan pohon dan bukannya menebang keseluruhan pohon. Sebagai organisasi pelindung, FSC juga memberi sejumlah pabrik rekanan kecil dari Pakistan, India, dan negara lain, dalam hal pelatihan, penjualan dan memproduksi, tujuan utama untuk membantu rakyat di negera-negara itu agar dapat melepaskan diri dari kemiskinan, serta mendapat perlindungan atas hak sebagai buruh. Dan para penyalurnya juga termasuk perusahaan yang mempraktekkan konsep melindungi lingkungan hidup antara lain greenshop.co.uk dan juga littlegreenangels.com.
Selain produk mainan dari kayu, di situs internet juga dapat ditemukan tidak sedikit perusahaan yang memproduksi dengan bahan baku mainan lainnya yang sesuai dengan standar etika.
Situs internet milik Asosiasi Broadcasting RRC menunjukkan, dahulu proses konsumtif yang memenuhi selera dan kepentingan setiap pribadi di dalam masyarakat, seiring dengan perkembangan iptek informasi, subjektivitas konsumen dan bangkitnya pemahaman akan pelestarian lingkungan, berdasarkan konsep moral tertentu, pemikiran konsumen untuk mengonsumsi atau tidak, membuat suatu budaya konsumtif merembes masuk ke dalam keadilan, prinsip umum dan pemberian hak, secara perlahan memperlihatkan “nilai umum” konsep konsumtif.
Usulan yang direkomendasikan oleh Tim Hunt membuat orang balik berpikir makna dari “nilai umum” ini, dan kesempatan baik untuk menerapkan moralitas yang tinggi.
sumber:
www.eocommunity.com
30 Orangutan Akan Dilepaskan Di Cagar Alam Aceh
Yayasan
Ekosistem Lestari sedang mempersiapkan pelepasan 30 ekor orangutan ke pusat
pelepasliaran orangutan di Cagar Alam Pinus Jantho, Kabupaten Aceh Besar,
Provinsi Aceh.
"Dengan
rampungnya pusat pelepasliaran orangutan di Cagar Alam Pinus Jantho akan
dilakukan translokasi (pemindahan) orangutan asal Aceh ke kawasan itu, setelah
selama ini ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi," kata Direktur
Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Ian Singleton, di Medan, Minggu
(30/10/2011).
Sejak
Pinus Jantho dinilai sudah bisa dimanfaatkan, ada 13 ekor orangutan yang
dilepas ke kawasan itu. Empat di antaranya bernama Ita Atjeh, Jeff Corwin,
Arun, dan Togar, yang dilepas 20 Oktober lalu.
Sisanya,
30 ekor, sedang dilatih dan dirawat di Karantina Batu Mbelin, Deli Serdang,
Sumatera Utara, untuk bisa juga dipindahkan ke Jantho secepat mungkin.
Pusat
karantina itu sendiri merupakan bagian dari Program Konservasi Orangutan
Sumatera (Sumateran Orangutan Conservation Programme/SOCP), sebuah program
kerja sama antara PanEco Foundation (Swiss), Yayasan Ekosistem Lestari, dan
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Orangutan
itu masuk karantina untuk dirawat dan dilatih mandiri agar bisa bertahan hidup
saat dikembalikan ke hutan.
Ian
menjelaskan, semua orangutan itu merupakan hasil sitaan dari masyarakat yang
memeliharanya secara ilegal.
Berdasarkan
UU Nomor 5 Tahun 1990, setiap orang dilarang mengganggu, membunuh, memelihara,
atau memperniagakan orangutan yang terdaftar sebagai satwa dilindungi di
Indonesia. Hukuman bagi yang melanggar undang-undang itu adalah penjara lima
tahun atau denda Rp 100 juta.
"Sebelum
membangun Stasiun Pelepasliaran Orangutan di Pinus Jantho, semua orangutan
sitaan SOCP dilepaskan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Jambi, yang
dilakukan bekerja sama dengan Frankfurt Zoological Society, Jerman,"
kata Ian.
Sejak
tahun 2003, ada 141 ekor orangutan yang dilepas ke Taman Nasional Bukit
Tigapuluh.
"Dengan adanya stasiun baru pelepasan orangutan di Aceh, hewan langka dan dilindungi yang disita di Provinsi Aceh akan dikembalikan ke hutan Aceh," katanya.
"Dengan adanya stasiun baru pelepasan orangutan di Aceh, hewan langka dan dilindungi yang disita di Provinsi Aceh akan dikembalikan ke hutan Aceh," katanya.
SOCP
berharap, dengan dilepasnya orangutan sumatera di Pinus Jantho, Aceh, populasi
hewan itu terus bertambah banyak.
Orangutan
adalah sebuah spesies yang masuk dalam daftar World Conservation Union sebagai
spesies yang critically endangered (sangat terancam punah) sebagai dampak dari konversi lahan,
penebangan liar, perambahan, dan penebangan untuk ekspansi perkebunan sawit.
Sumber: Antara
Subscribe to:
Posts (Atom)






























































