Bahaya-Bahaya Khusus Bagi Seorang Pemimpin



"Supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Korintus 9:27)

Setiap pemimpin Kristen harus mewaspadai bahaya-bahaya yang mengancam, khususnya bahaya di bidang rohani karena iblis tidak mengenal belas kasihan dan tidak akan melepaskan setiap kesempatan untuk mencobai siapa pun, termasuk pemimpin Kristen.

KESOMBONGAN

Dosa yang paling tidak disadari oleh korbannya adalah kesombongan.
Jika tidak dibendung, kesombongan akan menghalangi perkembangan pelayanan Kerajaan Tuhan karena "setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN" (Amsal 16:5).
Kesombongan berarti melupakan bahwa rahmat dan semua yang ada pada kita adalah pemberian Allah.
Ada tiga macam ujian yang dapat dipakai untuk mengungkapkan apakah kita mengalah kepada bujukan kesombongan atau tidak.

Ujian mengenai hal dibelakangkan.
Ujian tentang bagaimana reaksi kita apabila orang lain lebih diutamakan daripada kita.

Ujian kejujuran.
Ujian tentang bagaimana perasaan kita jika orang lain, terutama lawan-lawan kita, mengatakan hal yang sebenarnya mengenai kita?

Ujian kritik.
Ujian tentang bagaimana sikap kita terhadap sebuah kritikan. Apakah kritikan tersebut akan menimbulkan kebencian dan kemarahan, ataukah menyebabkan kita segera membenarkan diri sendiri, bahkan segera membalas mengkritik?

MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI

Salah satu penyataan dari kesombongan adalah mementingkan diri sendiri, yaitu berpikir dan berbicara banyak mengenai diri sendiri maupun kebiasaan untuk membesar-besarkan prestasi dan kepentingan diri sendiri. Pemimpin yang sudah lama dikagumi dan ditaati oleh para pengikutnya menghadapi risiko untuk mengalah kepada bahaya ini.

Ada satu ujian yang baik untuk mengukur timbulnya atau hilangnya sifat mementingkan diri sendiri, yaitu dengan memerhatikan bagaimana Anda mendengarkan pujian bagi orang lain yang setaraf dengan Anda.
Kalau Anda tidak dapat mendengarkan pujian bagi seorang saingan tanpa satu keinginan untuk menguranginya atau mencoba untuk meremehkan pekerjaannya, Anda boleh merasa yakin bahwa di dalam diri Anda masih ada dorongan untuk mementingkan diri sendiri. Dorongan seperti ini harus dibawa ke bawah kasih karunia Allah.

IRI HATI

Orang yang iri hati bersikap kuatir dan curiga terhadap saingannya.
Iri hati ini juga erat hubungannya dengan kesombongan. Pencobaan iri hati ini dihadapkan kepada Musa melalui kesetiaan rekan-rekan sekerjanya (Bilangan 11:28). Dua dari beberapa orang yang ditunjuk oleh Musa untuk membantunya telah bernubuat, dan para pengikutnya yang setia merasa iri hati demi kepentingan Musa karena haknya sebagai nabi seolah-olah dirampas dan nama baiknya mendapat tantangan. Tetapi, sifat iri hati ini tidak memunyai tempat di dalam hati Musa. Hal-hal seperti itu dapat dengan aman diserahkan kepada Allah yang telah memanggilnya.

KEPOPULERAN

Para pengikut yang memberi hormat secara berlebih-lebihan kepada para pemimpin gereja merupakan ciri ketidakmatangan rohani dan kedagingan. Kelemahan yang sama juga ditunjukkan apabila pemimpin menerima penghormatan yang berlebihan tersebut. Para pemimpin rohani memang harus "sungguh-sungguh dijunjung dalam kasih karena pekerjaan mereka", tetapi penghargaan seperti itu tidak boleh menjadi pemujaan yang berlebihan. Seorang pemimpin dianggap paling berhasil jika ia dapat mengarahkan cinta para pengikutnya lebih besar kepada Kristus daripada kepada dirinya sendiri.

Yesus menerangkan hal ini sejelas-jelasnya pada waktu Ia berkata,
"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu." Dan Ia mengatakan kebenaran yang sejalan dengan itu pada waktu Ia berkata,"Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu,dan jika mereka mengucilkan kamu dan mencela kamu serta menolak
namamu sebagai sesuatu yang jahat."

TIDAK BERSALAH

Seorang pemimpin yang mengenal Allah lebih baik daripada rekan-rekannya, berada dalam bahaya untuk jatuh secara tidak disadari ke dalam bahaya yang halus, yaitu kurang kemungkinannya
untuk berbuat salah. Pertimbangannya biasanya terbukti lebih tepat daripada orang lain. Karena itu, sulit baginya untuk mengakui kemungkinan ia bersalah dan menyerah kepada penilaian orang lain.
Kerelaan untuk mengakui bahwa kita mungkin bersalah dalam menilai dan untuk menghormati penilaian saudara-saudara kita, akan memperkuat dan bukannya mengurangi pengaruh. Menganggap diri tidak dapat bersalah menyebabkan hilangnya keyakinan. Kedengarannya memang aneh,tetapi benar bahwa sikap seperti itu dapat timbul bersama-sama dengan kerendahan hati yang sejati di bidang-bidang lain dalam kehidupan.

MERASA SANGAT DIPERLUKAN

Banyak orang yang besar pengaruhnya telah jatuh menghadapi pencobaan dengan berpendirian bahwa mereka tidak dapat diganti oleh orang lain, dan bahwa demi pekerjaan, mereka tidak dapat melepaskan kedudukan mereka. Mereka tetap memegang kekuasaan itu lama setelah pekerjaan itu sepatutnya diserahkan kepada orang-orang yang lebih muda. Tidak ada lingkungan yang lain di mana kecenderungan yang membahayakan ini lebih lazim daripada di dalam pekerjaan Kristen.
Selama bertahun-tahun, kemajuan dihalangi oleh orang-orang yang bermaksud baik, tetapi telah lanjut usia, yang tidak mau meninggalkan kedudukannya dan ingin tetap memegang tali kendali dengan tangan-tangannya yang sudah mulai lemah. Seharusnya sejak semula ia bertujuan untuk tetap di belakang, mengembangkan sikap bergantung kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh di antara para anggotanya, dan melatih orang-orang rohani untuk secepat mungkin mengambil tanggung jawab pekerjaan selengkapnya.

KEGIRANGAN DAN KEMURUNGAN

Selalu ada waktu-waktu di mana kita mengalami kemurungan dan kekecewaan dalam pekerjaan melayani Allah. Ada juga hari-hari di mana kita menanjak dan membuat prestasi. Seorang pemimpin mungkin sekali terlalu murung karena suatu hal dan terlalu girang karena yang lainnya. Tidak mudah untuk menemukan jalan tengah.

Ada waktu-waktu di mana segala sesuatu berjalan dengan baik. Tujuan-tujuan tercapai, usaha-usaha yang direncanakan berhasil, Roh bekerja, jiwa-jiwa diselamatkan, dan orang-orang suci diberkati Tuhan. Pada saat-saat seperti ini, seorang pemimpin yang dewasa mengetahui siapa yang patut mendapat mahkota atas prestasinya, yaitu Tuhan yang berhak memilikinya. Kebiasaan ini mencegah pemimpin menyombongkan diri atas kemuliaan yang merupakan milik Allah.

NABI ATAU PEMIMPIN?

Kadang-kadang orang menghadapi konflik antara dua pelayanan yang sama-sama cocok baginya. Misalnya, seorang pendeta yang memunyai bakat-bakat yang menonjol untuk menjadi pemimpin mungkin mencapai satu kedudukan di dalam gereja atau organisasinya, di mana ia harus memilih apakah ia akan berperan sebagai seorang pemimpin yang populer atau seorang nabi yang tidak populer.

Tentu saja tidak ada batas-batas yang jelas antara kedua peranan, dan kedudukan yang satu tidak selalu meniadakan yang lain. Tetapi suatu keadaan dapat dengan mudah berkembang pada waktu orang harus memilih antara pelayanan rohani dan kepemimpinan, yang akan menghalangi pelayanan rohani itu mencapai puncaknya. Di sinilah letak bahayanya.

PENOLAKAN

Meskipun pengorbanan Paulus begitu besar dan sukses yang dicapai dalam pelayanan kepada Kristus tidak ada batasnya, namun ia memunyai satu perasaan takut yang sehat di dalam hatinya. Ia takut kalau-kalau sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, ia sendiri ditolak (1 Korintus 9:27). Baginya, hal ini selalu menjadi suatu tantangan dan peringatan, sama seperti untuk semua orang yang diberi kepercayaan suatu tanggung jawab rohani.

Paulus menyadari bahwa obat mujarab untuk bahaya yang selalu mengancam ini bukan hanya terletak di bidang pengajaran atau etika saja, melainkan juga di bidang fisik. Perkataan menguasai diri berarti menguasai jalan tengah, yaitu bukannya mengekang diri secara berlebihan dan menjadi fakir di satu pihak atau mengumbar hawa nafsu di pihak lain. Ia tidak mau dikuasai oleh tubuhnya, baik dalam hal nafsu atau kesenangan diri yang tiada batas. Ungkapan "menguasai seluruhnya" menggambarkan seorang jenderal yang menang dalam peperangan dan membawa pulang para tawanan yang sekarang telah menjadi budaknya.

dok:nehemia

0 comments:

Post a Comment