Jangan Menggenggam Erat Apapun Juga



Teman saya pernah mengalami ketakutan menjelang detik-detik pernikahannya. Saya pikir ini adalah hal yang wajar. Mungkin ia agak stress memikirkan biaya yang menggunung, karena itu saya memberi saran untuk melaksanakan secara sederhana saja yang penting kesakralannya di mata Tuhan. Tapi rupanya yang jadi masalah bukan itu. Ia bilang kepada saya kalau ia takut jika calon suaminya tahu bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Saya benar-benar tak percaya karena dulu kami pernah terlibat dalam pelayanan bersama dan ia terlihat cinta Tuhan juga. Saya bertanya kenapa ini bisa terjadi. Semua ia lakukan untuk mantan pacarnya agar tidak kehilangan kekasihnya. Saya menyarankan dia untuk jujur pada calon suaminya, apapun yang ia hadapi itu adalah konsekuensi yang harus ia terima dari perbuatannya, walaupun Tuhan sudah mengampuni dosanya waktu ia minta maaf pada Tuhan.

Waktu kita menggenggam apa saja yang ada di dunia ini, harta, pasangan hidup, cinta, keluarga, orangtua, impian, cita-cita atau apaun sebenarnya kita sedang menghancurkan kehidupan kita dan segalanya.

Mari perhatikan raja Daud. Waktu Tuhan memberi nama anaknya, tapi ia menolak. Daud memilih manamai sendiri anaknya, karena ia merasa anaknya adalah miliknya.

....lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. Tuhan mengasihi anak ini. dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN. (2 Samuel 12:25-25)

Daud lebih senang memberi nama anaknya Salomo dari kata Shalom atau sama dengan damai. Ini membuktikan sebagai ayah Daud ingin hidup anaknya penuh damai. Seorang ayah yang baik bukan. Tapi kebaikan Daud berakibat fatal. Andai saja ia memberi nama Yedija, yang artinya dicintai Tuhan dan oleh karena Tuhan saja ia hidup maka mungkin hidup Salomo akan lebih indah. Daud punya alasan sendiri mengapa ia memberi nama Damai pada anaknya bukan dicintai Tuhan. Karena dicintai Tuhan artinya dididik oleh Tuhan dan didikan Tuhan itu bagi Daud mungkin sangat perih. Bukankah perih rasanya dikejar-kejar Saul, sang mertuanya sendiri. Bukankah perih rasanya bersembunyi di gua Adulam bersama ratusan orang-orang yang bermasalah? Dan begitu banyak keperihan lain yang Daud alami karena didikan Tuhan, tapi semua itu membuat Daud mendapat gelar 'raja' yang sesungguhnya. Bukankah Yesus kerap disebut anak Daud. Dan lihat di silsilah Yesus dalam Matius pasal 1, hanya Daud yang disebut namanya bersama dengan gelarnya sebagai raja.

Tapi apa yang terjadi dengan anaknya. Salomo memang dipenuhi kedamaian. Ia dengan damai membangun Bait Allah, tapi dengan damai juga ia mencintai ratusan istri dan ratusan gundik. Dengan damai juga ia menyembah berhala dan dengan damai juga ia berikhtiar membunuh Yerobeam. Yang paling fenomenal dari Salomo adalah betapa ia melukiskan kesia-siaan semuanya dalam kitab Pengkhotbah, padahal Tuhan menciptakan semuanya sungguh amat baik.

Kehancuran, keperihan dan kesia-sian itu memang kepastian, kalau kita menggegam segalanya dan mencintainya lebih dari segalanya. So, mari kita mencintai Yesus dan didikanNya sebab didikanNya tidak mebuat kita menderita, karena Tuhan memberi ajaran kepada orang yang dikasihiNya. seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. (Amsal 3:12)

sumber: Be Bright With Jesus

0 comments:

Post a Comment